MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 MABAR69 COCOL88 BWTOTO BWTOTO BWTOTO BWTOTO BWTOTO LAMBO69 LAMBO69 LAMBO69
ronin86
bwtoto
bwtoto
bwtoto
master38
Search for:
  • Home/
  • Dunia/
  • Penderitaan Perempuan di Gaza, Tidak Ada Pembalut untuk Menstruasi
Tempat penampungan sementara untuk para pengungsi Palestina di Jalur Gaza tengah.

Penderitaan Perempuan di Gaza, Tidak Ada Pembalut untuk Menstruasi

0 0
Read Time:3 Minute, 26 Second

Gaza – Perempuan Palestina di Gaza kekurangan pembalut, alat sterilisasi, dan peralatan kebersihan pribadi. Hal ini berdampak negatif terhadap kehidupan mereka di tengah berlanjutnya perang tanpa pandang bulu yang dilakukan Israel di wilayah Palestina selama tiga bulan.

Baca Juga :

Kanada Bantah Dukung Migrasi Warga Palestina ke Negaranya

Berbicara kepada The New Arab, perempuan setempat mengeluh bahwa mereka kadang-kadang harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk mencari di apotek, toko, dan pasar lokal hanya untuk menemukan pembalut dan tisu. Meski demikian, mereka juga tidak mendapatkan satu pun peralatan pribadi yang mereka butuhkan.

Mereka mengaku menderita akibat tidak adanya perlengkapan kebersihan diri, terutama pada saat siklus menstruasi yang memerlukan perhatian khusus terhadap kebersihan.

Baca Juga :

PMI Terima Donasi Rp1 Miliar untuk Warga Palestina yang Dilanda Konflik

Ilustrasi menstruasi/haid/pembalut.

Di antara perempuan-perempuan tersebut adalah Zainab Omar, seorang pengungsi Palestina di kota Rafah, yang menghabiskan beberapa hari mencari pembalut namun tidak dapat memperolehnya.

Baca Juga :

Houthi Yaman Kembali Peringatkan AS Bahwa Akan Terus Serang Kapal Israel

“Saya terpaksa mengungsi dari rumah saya di Kota Gaza ke Rafah tanpa bisa membawa apa pun. Tanpa pakaian, tanpa uang, tanpa apa pun,” kata ibu tiga anak berusia 28 tahun itu, dikutip dari The New Arab, Sabtu, 30 Desember 2023.

“Saya tidak tahu bahwa perang akan berlangsung lama dan saya akan tinggal jauh dari rumah untuk waktu yang lama. Saya berjuang keras untuk bertahan hidup, dan menghadapi semua keadaan sulit yang saya dan suami saya hadapi,” tambahnya.

Zainab tidak tahu bahwa dia akan menghadapi perjalanan siksaan baru, yang akan melibatkan pencarian pembalut wanita, ketika masa menstruasinya semakin dekat.

“Saya tidak mempersiapkan diri untuk kondisi seperti itu. Saya sudah datang bulan, dan saya tidak membawa perlengkapan mandi pada hari-hari seperti ini. Suami saya sering mencari pembalut untuk saya, tetapi dia tidak menemukannya,” ucapnya.

Wanita muda tersebut harus membuang jilbabnya dan memotongnya menjadi tiga bagian untuk digunakan sebagai pengganti pembalut wanita, karena dia biasa mencuci jilbab yang dia gunakan.

“Saya banyak menangis. Saya takut tertular bakteri saat menggunakan kain sebagai pengganti pembalut, tapi saya tidak punya pilihan lain.”

Situasinya lebih buruk

Israel buldozer kamp pengungsi Palestina di RS Kamal Adwan, Gaza Utara

Di lain sisi, bagi Maram Al-Sayed, seorang perempuan pengungsi asal Kota Gaza, mengatakan bahwa situasinya lebih buruk, terutama sejak ia melahirkan bayinya, setelah pecahnya perang antara Hamas dan Israel.

“Saya diusir dari rumah sebelum saya melahirkan tanpa membawa satu pun pakaian bayi atau bahkan perlengkapan melahirkan saya. Saya pikir saya akan segera kembali ke rumah saya, tetapi semua harapan saya sia-sia,” ujar Maram.

Setelah beberapa minggu, ibu muda tersebut mengenang, “Saya dan suami berjuang keras untuk membeli pakaian bayi, serta perlengkapan mandi dan pembalut. Tapi kami hanya menemukan sedikit di antaranya dengan harga yang sangat mahal.”

“Pembalut saya hanya bertahan beberapa hari, dan inilah yang membuat saya menggunakan potongan kain untuk digunakan selama masa nifas,” tambahnya.

Akibat kekurangan air, cuaca dingin, serta kurangnya pembalut dan perlengkapan mandi, Maram terjangkit infeksi bakteri pada alat kelamin yang memaksanya harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari tanpa anaknya.

“Karena infeksi bakteri, saya tidak berhenti menstruasi dan penyakit itu masih terus saya alami hingga saat ini. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa mereka mungkin harus melakukan operasi pada rahim jika tubuh saya tidak merespons perawatan medis,” jelasnya.

Remaja putri tersebut khawatir bahwa dia tidak akan dapat memiliki anak lagi jika penderitaannya berlanjut dalam jangka waktu yang lebih lama.

Kurangnya persediaan untuk perempuan, terutama pembalut wanita, telah mendorong banyak aktivis untuk mengeluarkan seruan di platform media sosial, yang menuntut penyediaan perlengkapan kebersihan pribadi.

Mereka menekankan bahwa persediaan tersebut bukanlah barang mewah, namun penting untuk menjamin kesehatan perempuan, dan mungkin ada dampak negatif yang besar jika tidak tersedia bagi perempuan.

Kelangkaan perbekalan perempuan di Jalur Gaza disebabkan adanya pencegahan masuknya bantuan kemanusiaan melalui jalur darat Rafah, sejak pecahnya perang antara Hamas dan Israel.

Akibatnya, beberapa wanita terpaksa menggunakan obat kontrasepsi untuk menunda siklus menstruasi mereka, menyebabkan banyak dari mereka merasakan sakit yang luar biasa dan memperburuk penderitaan mereka sehari-hari.

Halaman Selanjutnya

Zainab tidak tahu bahwa dia akan menghadapi perjalanan siksaan baru, yang akan melibatkan pencarian pembalut wanita, ketika masa menstruasinya semakin dekat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21